Sebotol lem kontak, sekaleng pernis semprot, cairan pembersih kuas, atau sebungkus serbuk pewarna kain biasanya sampai di meja kerja tanpa banyak penjelasan. Padahal kemasan bahan-bahan itu sering memuat informasi yang cukup lengkap: gambar belah ketupat berbingkai merah, satu kata peringatan, beberapa kalimat bahaya, dan petunjuk tindakan. Informasi itu disusun menurut sistem yang sama di banyak negara, yaitu Globally Harmonized System of Classification and Labelling of Chemicals atau GHS. Di Indonesia, sistem ini diatur lewat peraturan Menteri Perindustrian, sehingga label bahan kimia buatan pabrik maupun impor seharusnya memakai unsur yang seragam dan berbahasa Indonesia.
Kemampuan membaca label dan lembar data keselamatan bukan urusan laboratorium saja. Di rumah, keputusan kecil seperti membuka jendela, memakai sarung tangan, memisahkan wadah, atau menjauhkan kaleng dari kompor ditentukan oleh apa yang tertulis di kemasan. Bagian berikut membahas cara membaca setiap unsur label, cara menemukan dan memakai lembar data keselamatan, serta cara menerjemahkan informasi itu menjadi kebiasaan kerja yang konkret di meja kerajinan.
Dari mana aturan label bahan kimia berasal
Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 87/M-IND/PER/9/2009 menetapkan penerapan GHS untuk klasifikasi dan label bahan kimia di Indonesia. Peraturan ini kemudian diubah dengan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 23/M-IND/PER/4/2013. Dalam versi perubahan, GHS diberlakukan wajib untuk bahan kimia tunggal sejak peraturan berlaku, dan untuk bahan kimia campuran, baik produksi dalam negeri maupun impor, sejak 31 Desember 2016. Kewajiban untuk campuran dikecualikan bagi perusahaan industri dalam negeri skala kecil dan menengah. Produk jadi farmasi, bahan tambahan pangan, kosmetika, dan residu pestisida dalam pangan juga berada di luar ketentuan ini.
Pengecualian itu penting bagi pembuat kerajinan. Banyak bahan kerajinan adalah campuran: cat akrilik, lem, tinta, pernis, atau clay. Bila produsennya industri besar, labelnya semestinya mengikuti GHS. Bila produk berasal dari usaha kecil, atau merupakan barang impor yang dikemas ulang tanpa label lengkap, informasi di kemasan bisa jauh lebih sedikit. Karena itu, kebiasaan yang aman adalah memperlakukan label lengkap sebagai sumber pertama, lalu mencari lembar data keselamatan bila label terasa kurang.
Peraturan tahun 2009 juga menetapkan bahwa penulisan label dan lembar data keselamatan wajib menggunakan bahasa Indonesia, dan boleh disertai bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa seperti bahasa Inggris. Peraturan itu memakai istilah Lembar Data Keselamatan Bahan atau LDKB, sedangkan perubahan 2013 memakai istilah Lembar Data Keselamatan (LDK) yang dalam bahasa Inggris disebut safety data sheet atau SDS. Ketiga sebutan ini merujuk pada dokumen yang sama fungsinya. Dalam percakapan sehari-hari, istilah lama MSDS juga masih sering terdengar.
Siapa yang wajib, siapa yang membaca
Kewajiban menentukan klasifikasi, mencantumkan label, dan membuat lembar data berada pada pelaku usaha sesuai perannya. Pasal 11 ayat (1) huruf d dalam perubahan 2013 meminta pelaku usaha yang memproduksi bahan kimia atau produk konsumen mengkaji ulang LDK dan label setiap ada perubahan atau paling sedikit setiap lima tahun sekali. Ketentuan itu bukan perintah bagi pembaca di rumah untuk mengganti semua dokumen setelah lima tahun. Gunakan revisi yang sesuai dengan produk dan periksa kembali bila produk atau petunjuknya berubah. Dua lem yang tampak serupa dapat mempunyai persyaratan penanganan berbeda.
Enam unsur yang wajib ada pada label
Pasal 5 ayat (2), sebagaimana diubah oleh Peraturan Menteri Perindustrian 23/2013, menetapkan enam unsur wajib label: identitas bahan kimia, piktogram bahaya, kata sinyal, pernyataan bahaya, pernyataan kehati-hatian, serta identitas produsen dan/atau pemasok atau importir. Pernyataan kehati-hatian termasuk unsur wajib, bukan tambahan pilihan. Label juga harus mudah terbaca, jelas terlihat, mempunyai ukuran huruf dan piktogram yang proporsional, serta tidak mudah rusak, lepas, atau pudar. Memahami fungsi setiap unsur membantu pembaca menemukan petunjuk yang dibutuhkan sebelum memakai bahan.
Penanda produk
Penanda produk menjelaskan isi kemasan: nama dagang, nama bahan kimia, dan kadang konsentrasi. Peraturan memberi ruang bagi produsen untuk tidak mencantumkan nama bahan atau konsentrasi tertentu demi kerahasiaan, selama tidak melanggar aspek kesehatan, keamanan, keselamatan, dan lingkungan. Itulah sebabnya beberapa label hanya menulis “campuran resin” tanpa rincian. Informasi yang tidak tampil di label kadang tersedia sebagian di bagian komposisi lembar data keselamatan.
Piktogram bahaya
Piktogram GHS berbentuk belah ketupat berbingkai merah dengan simbol hitam di dalamnya. Lampiran I peraturan 2009 mengelompokkan piktogram itu menurut jenis bahaya, misalnya nyala api untuk bahan mudah menyala, lingkaran dengan nyala api untuk pengoksidasi, tabung gas untuk gas bertekanan, korosi untuk bahan yang merusak kulit atau logam, tengkorak untuk toksisitas akut, tanda seru untuk iritasi kulit dan bahaya ringan lain, siluet tubuh dengan bintang di dada untuk bahaya kesehatan jangka panjang seperti sensitisasi pernapasan atau bahaya aspirasi, dan pohon serta ikan mati untuk bahaya terhadap lingkungan akuatik.
Halaman piktogram Administrasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja Amerika Serikat (OSHA) menegaskan satu detail yang berguna: bingkai merah tanpa simbol di dalamnya bukan piktogram. Jadi, kotak merah kosong di kemasan tidak memberi informasi bahaya apa pun. Yang dibaca adalah simbolnya, lalu dicocokkan dengan pernyataan bahaya di bawahnya.
Kata sinyal
Peraturan Indonesia mendefinisikan kata sinyal sebagai kata “Bahaya” dan “Awas” yang menunjukkan tingkat relatif bahaya. “Bahaya” dipakai untuk kategori yang lebih berat, sedangkan “Awas” untuk kategori yang lebih ringan. Pada label berbahasa Inggris, padanannya adalah “Danger” dan “Warning”. Ringkasan GHS di PubChem, layanan data kimia di National Library of Medicine Amerika Serikat, menunjukkan contohnya: cairan sangat mudah menyala kategori 2 memakai “Danger”, sedangkan cairan mudah menyala kategori 3 memakai “Warning”. Ketika dua produk sejenis dibandingkan, produk dengan kata “Bahaya” memerlukan perhatian lebih besar.
Pernyataan bahaya dan pernyataan kehati-hatian
Pernyataan bahaya menjelaskan sifat bahaya dengan kalimat baku, misalnya “Cairan dan uap mudah menyala” atau “Menyebabkan iritasi mata yang serius”. Dalam sistem internasional, setiap pernyataan bahaya memiliki kode yang diawali huruf H, misalnya H226 untuk cairan dan uap mudah menyala atau H319 untuk iritasi mata serius. Pernyataan kehati-hatian berkode P, misalnya P102 yang berarti jauhkan dari jangkauan anak-anak, atau P210 tentang menjauhkan bahan dari panas, permukaan panas, percikan, dan nyala api. Peraturan Indonesia meminta pernyataan bahaya dicantumkan berurutan menurut tingkat bahaya dan diletakkan di bawah piktogram.
Kode H dan P tidak selalu dicetak pada label konsumen; kadang hanya kalimatnya yang muncul. Bila sebuah label atau lembar data hanya menulis kode, ringkasan GHS di PubChem dapat dipakai untuk mencari arti kode tersebut. Jangan menebak arti kode dari angka yang mirip, karena H317 (dapat menyebabkan reaksi alergi kulit) dan H319 (iritasi mata serius) misalnya merujuk pada bahaya yang berbeda.
Identifikasi produsen
Nama dan alamat produsen atau pengemas ulang adalah unsur yang sering diabaikan, padahal unsur ini yang mengarahkan pembaca ke lembar data keselamatan dan nomor kontak darurat. Bila kemasan sama sekali tidak menyebut produsen, sulit memastikan isi dan cara penanganannya. Bahan seperti itu sebaiknya tidak dipakai untuk proyek bersama anak dan tidak disimpan bercampur dengan bahan lain.

Lembar data keselamatan: enam belas bagian yang punya urutan tetap
Lampiran II peraturan 2009 memuat format lembar data keselamatan dengan urutan bagian yang sama dengan format internasional. Ringkasan OSHA tentang lembar data keselamatan menjelaskan enam belas bagian itu satu per satu. Bagi pembuat kerajinan, tidak semua bagian sama pentingnya. Yang perlu dikuasai adalah di mana mencari jawaban untuk pertanyaan praktis.
| Pertanyaan di meja kerja | Bagian yang dibaca |
|---|---|
| Ini bahan apa dan untuk apa? | 1 Identifikasi |
| Bahaya utamanya apa? | 2 Identifikasi bahaya |
| Isinya apa saja? | 3 Komposisi |
| Apa yang dilakukan bila terkena mata atau kulit? | 4 Pertolongan pertama |
| Bagaimana menyimpan dan apa yang tidak boleh dicampur? | 7 Penanganan dan penyimpanan |
| Perlu ventilasi, sarung tangan, atau kacamata? | 8 Kontrol paparan dan perlindungan diri |
| Mudah menguap atau mudah menyala? | 9 Sifat fisika dan kimia |
| Bagaimana membuang sisa dan kemasan? | 13 Pertimbangan pembuangan |
Bagian 2 adalah ringkasan label: klasifikasi, kata sinyal, pernyataan bahaya, dan pernyataan kehati-hatian. Jika label kemasan sobek atau terlalu kecil, bagian inilah penggantinya. Bagian 3 menyebut komponen berbahaya dan rentang konsentrasinya. Untuk campuran, nomor CAS di bagian ini membantu mencari informasi lanjutan.
Bagian 4 berisi langkah pertolongan pertama untuk paparan lewat mata, kulit, pernapasan, dan tertelan, serta gejala penting yang perlu diwaspadai. Bacalah bagian ini sebelum bahan dipakai, bukan setelah kejadian. Menyimpan lembar data dalam map dekat tempat kerja atau di ponsel memudahkan anggota keluarga lain menemukannya ketika diperlukan.
Bagian 7 dan 8 adalah yang paling sering mengubah cara kerja. Ringkasan OSHA menyebut bagian 7 memuat praktik penanganan yang aman dan kondisi penyimpanan, termasuk bahan yang tidak boleh disimpan berdekatan. Bagian 8 memuat batas paparan, pengendalian teknik, dan alat pelindung diri. Pengendalian yang disebut dapat berupa penghisap setempat atau sistem tertutup; membuka jendela tidak otomatis memenuhinya. Periksa kebutuhan produk dan kemampuan ruang menyediakannya. Jika kecukupannya tidak dapat dipastikan, jangan lanjutkan proses hanya karena ada aliran udara.
Bagian 9 memuat sifat fisika dan kimia, termasuk titik nyala dan tekanan uap. Angka-angka ini membantu memahami mengapa sebuah pengencer cepat tercium baunya dan mengapa kalengnya harus jauh dari kompor. Bagian 13 tentang pembuangan menjelaskan apakah sisa bahan boleh dibuang bersama sampah rumah tangga atau perlu penanganan khusus. Ringkasan OSHA mencatat bahwa bagian 12 sampai 15 tetap harus ada agar konsisten dengan GHS, meskipun di Amerika Serikat isinya tidak ditegakkan OSHA karena menyangkut kewenangan lembaga lain.
Cara mendapatkan lembar data
Produsen besar biasanya menyediakan lembar data keselamatan di situs resminya, sering pada halaman produk atau halaman khusus dokumen. Cari dengan nama dagang lengkap, varian warna atau seri, dan negara pemasaran. Lembar data untuk pasar berbeda bisa berbeda isinya karena mengikuti aturan setempat. Perhatikan tanggal revisi di bagian 16; versi yang lebih baru menggantikan versi lama. Bila lembar data tidak tersedia daring, nomor layanan pelanggan pada label adalah jalur berikutnya. Permintaan yang jelas menyebut nama produk dan nomor kemasan memudahkan jawaban.
Menerjemahkan label menjadi tindakan di meja kerja
Informasi label baru berguna bila berubah menjadi kebiasaan. Salah satu cara yang praktis adalah membaca setiap bahan baru dengan empat pertanyaan, lalu mencatat jawabannya pada kartu kecil yang disimpan bersama bahan itu.
- Apakah bahan ini mudah menyala? Bila ada piktogram nyala api atau pernyataan seperti cairan dan uap mudah menyala, pakai jauh dari kompor, setrika, lilin, alat pemanas, dan colokan yang sering dicabut. Tutup kaleng segera setelah mengambil secukupnya.
- Apakah bahan ini mengiritasi atau dapat memicu alergi kulit? Tanda seru atau pernyataan iritasi kulit dan sensitisasi berarti sarung tangan yang sesuai perlu dipakai. Bagian 8 lembar data biasanya menyebut jenis bahan sarung tangan.
- Apakah ruang memenuhi pengendalian paparan yang diminta? Baca label serta bagian 7 dan 8 SDS untuk kebutuhan ventilasi dan pengendalian teknik. Jendela terbuka atau teras tidak otomatis cukup. Bila syarat produk tidak dapat dipastikan terpenuhi, pilih bahan atau proses lain, atau minta penjelasan produsen sebelum bekerja.
- Bagaimana sisa dan kemasannya dibuang? Bagian 13 menjawab ini. Jangan menuang sisa pelarut ke saluran air hanya karena jumlahnya sedikit.
Contoh rekaan: sebuah lem kontak berlabel “Bahaya” dengan piktogram nyala api dan tanda seru, serta pernyataan tentang cairan dan uap sangat mudah menyala dan kemungkinan pusing. Label itu menjadi alasan untuk menunda pemakaian sampai bagian 7 dan 8 SDS dibaca. Periksa sumber penyalaan, pengendalian uap, pelindung yang diminta, dan tempat penyimpanan. Jangan menganggap teras atau jendela lebar sudah mencukupi kebutuhan produk tersebut. Jika ruang rumah tidak dapat memenuhi syaratnya, pilih perekat atau cara penyambungan lain yang petunjuknya dapat dipenuhi. Lem PVA tanpa piktogram pun tetap memerlukan pemeriksaan petunjuknya sendiri.
Menandai bahan dengan kartu ringkas
Kartu ringkas cukup memuat nama bahan, kata sinyal, piktogram yang ada, satu kalimat tentang ventilasi, satu kalimat tentang pelindung diri, dan cara buang. Tempelkan kartu pada kotak penyimpanan, bukan pada botol yang bisa basah oleh cat. Ketika bahan habis dan diganti merek lain, kartu juga harus diganti karena komposisi dan klasifikasinya bisa berbeda. Kebiasaan ini membantu ketika anggota keluarga lain ikut memakai bahan, atau ketika bahan dipakai lagi berbulan-bulan kemudian.
Wadah pindahan perlu label juga
Pembuat kerajinan sering memindahkan cat, alkohol, atau pengencer ke botol kecil supaya mudah dipakai. Peraturan Indonesia mewajibkan pelaku usaha yang mengemas ulang bahan kimia mencantumkan label dan menyertakan lembar data. Di rumah, prinsip yang sama tetap masuk akal: botol pindahan ditulisi nama bahan, kata sinyal, dan tanggal pindah. Jangan memakai botol bekas minuman atau stoples makanan sebagai wadah pindahan, karena bentuknya mengundang orang lain, terutama anak, untuk mengira isinya bisa dikonsumsi.
Arsip sederhana untuk semua lembar data
Lembar data keselamatan berguna hanya bila dapat ditemukan dengan cepat. Satu map plastik atau satu folder di ponsel sudah cukup, asalkan isinya rapi. Beri nama setiap berkas dengan pola yang sama, misalnya jenis bahan, nama dagang, varian, dan tahun revisi dokumen. Urutkan menurut jenis bahan: perekat, cat dan tinta, pelarut dan pembersih, clay, serta pewarna kain. Dengan pola itu, mencari lembar data pernis pada saat tangan masih basah tidak memerlukan waktu lama.
Tandai juga bahan yang sudah tidak dipakai. Ketika sebuah produk habis dan tidak dibeli lagi, pindahkan lembar datanya ke subfolder arsip agar tidak tertukar dengan produk pengganti. Ketika ada bahan yang disimpan di luar ruangan atau di gudang, catat lokasinya pada kartu ringkas yang sama. Kebiasaan kecil ini membuat pemeriksaan berkala lebih mudah: sekali dalam beberapa bulan, cocokkan isi rak dengan isi folder, buang kemasan kosong sesuai petunjuk bagian 13, dan perbarui lembar data yang revisinya sudah lama.
Bila ada anggota keluarga yang memiliki alergi atau asma, tambahkan catatan pada kartu bahan yang memuat pernyataan sensitisasi kulit atau pernapasan. Catatan itu membantu memilih bahan pengganti dan menentukan siapa yang sebaiknya tidak berada di ruangan saat bahan tersebut dipakai.
Label bahan seni dan kerajinan dari luar negeri
Banyak cat, tinta, dan clay yang beredar di Indonesia adalah barang impor. Selain unsur GHS, kemasan produk dari Amerika Serikat sering memuat kalimat “Conforms to ASTM D-4236”. Di Amerika Serikat, Labeling of Hazardous Art Materials Act menjadikan standar ASTM D-4236 tentang pelabelan bahaya kesehatan kronis pada bahan seni sebagai ketentuan yang mengikat, sebagaimana tercatat dalam 16 CFR 1500.14. Kalimat itu berarti produk telah dinilai menurut ketentuan pelabelan tersebut. Kalimat itu bukan jaminan bahwa produk tidak berbahaya untuk semua penggunaan atau untuk semua usia.
Produk dari Eropa biasanya memakai unsur GHS yang sama, termasuk piktogram dan kata sinyal dalam bahasa negara pemasaran. Karena kode H dan P berlaku internasional, kode yang tercetak dapat dicocokkan dengan ringkasan GHS. Bila label sama sekali tidak memuat bahasa Indonesia, mencari lembar data dari produsen menjadi lebih penting.
Label usia dan tanda lain yang sering tertukar
Beberapa kemasan memuat simbol batas usia, keterangan bahan tidak beracun, atau tanda hasil uji tertentu. Tanda-tanda itu tidak sama dengan klasifikasi GHS. Tanda usia biasanya berkaitan dengan risiko tersedak bagian kecil atau aturan mainan, sedangkan klasifikasi GHS berkaitan dengan sifat bahan kimianya. Keduanya perlu dibaca bersama. Bahan yang tidak berpiktogram tetap dapat berbahaya bagi balita bila berbentuk butiran kecil, dan bahan untuk usia tertentu tetap bisa memerlukan ventilasi bila dipanaskan atau dipakai dalam jumlah besar.
Latihan: membandingkan dua kemasan yang tampak mirip
Cara tercepat melatih kebiasaan membaca label adalah membandingkan dua produk yang dipakai untuk pekerjaan serupa. Contoh rekaan berikut memakai dua pernis untuk melapisi hiasan dari kertas dan kayu. Kemasan pertama adalah pernis berbasis air. Labelnya tidak memuat piktogram, hanya pernyataan kehati-hatian agar dijauhkan dari jangkauan anak dan agar mata dibilas dengan air bila terpercik. Kemasan kedua adalah pernis berbasis pelarut. Labelnya memuat kata sinyal, piktogram nyala api, dan pernyataan bahaya bahwa cairan dan uapnya mudah menyala serta dapat menyebabkan kantuk atau pusing.
Dua label itu menunjukkan hal yang perlu diperiksa, bukan langsung menetapkan tempat kerja yang aman. Untuk masing-masing pernis, cocokkan petunjuk penanganan, ventilasi, pembersihan kuas, dan pembuangan dengan label serta SDS-nya. Tidak adanya piktogram pada contoh berbasis air tidak membuktikan bahwa meja biasa dan jendela terbuka cukup untuk semua cara pemakaian. Pada contoh berbasis pelarut, sumber penyalaan serta penanganan lap juga perlu diperiksa. Bila persyaratan ruang atau pengendalian paparannya tidak dapat dipenuhi, jangan memulai pelapisan hanya dengan menambah bukaan jendela.
Langkah berikutnya adalah membuka bagian 8 lembar data masing-masing. Untuk produk berpelarut, bagian ini sering menyebut ventilasi dan jenis sarung tangan yang tahan terhadap pelarut tertentu. Sarung tangan karet tipis yang biasa dipakai di dapur belum tentu sesuai. Bila bagian 8 menyebut alat pelindung pernapasan untuk kondisi tertentu, hal itu menandakan pekerjaan dalam jumlah besar atau di ruang tertutup tidak cocok dilakukan di rumah. Mengganti produk dengan alternatif berbasis air sering menjadi pilihan yang lebih sederhana daripada menambah perlengkapan.
Latihan yang sama dapat diulang untuk lem, tinta, dan cairan pembersih. Setelah beberapa pasang produk dibandingkan, terlihat pola yang berguna: produk berbasis pelarut lebih sering membawa piktogram nyala api dan pernyataan tentang pusing, sedangkan produk berbasis air lebih sering hanya membawa pernyataan kehati-hatian umum. Pola itu bukan aturan mutlak, sehingga label tetap harus dibaca satu per satu.
Kesalahan umum saat membaca label
Kesalahan pertama adalah membaca piktogram saja tanpa pernyataan bahaya. Tanda seru, misalnya, dapat mewakili beberapa bahaya ringan yang berbeda, mulai dari iritasi kulit sampai bahaya iritasi saluran pernapasan. Kalimat di bawahnya yang menjelaskan mana yang berlaku.
Kesalahan kedua adalah menganggap produk tanpa piktogram pasti aman dalam semua cara pakai. Klasifikasi dibuat untuk cara pakai yang wajar. Memanaskan bahan di luar petunjuk, mengampelas lapisan cat kering, atau mencampur dua produk dapat menghasilkan paparan yang tidak tergambar pada label masing-masing. Petunjuk penggunaan yang dianjurkan dan pembatasannya ada di bagian 1 lembar data.
Kesalahan ketiga adalah mencampur bahan dari kemasan berbeda tanpa membaca bagian penyimpanan dan reaktivitas. Bagian 7 menyebut bahan yang tidak boleh disimpan bersama, sedangkan bagian 10 tentang stabilitas dan reaktivitas menjelaskan kondisi dan bahan yang perlu dihindari. Pembersih berbasis klorin dan bahan berbasis asam, misalnya, tidak dicampur dalam ember yang sama hanya karena keduanya dipakai untuk mencuci alat.
Kesalahan keempat adalah menyimpan lembar data versi lama. Komposisi bisa berubah dan produsen merevisi dokumennya. Ketika membeli kemasan baru dengan desain berbeda, periksa kembali tanggal revisi lembar data.
Ketika terjadi paparan
Ikuti langkah pertolongan pertama serta kebutuhan bantuan segera pada bagian 4 lembar data dan pernyataan kehati-hatian di label. Jangan menunggu keluhan mata menetap apabila petunjuk produk meminta bantuan medis segera. Untuk bahan tertelan, paparan mata, atau gangguan pernapasan, lakukan langkah yang sesuai bahan dan cari pertolongan sebagaimana diarahkan; jangan menggantinya dengan resep penanganan umum. Pernyataan kehati-hatian P101 dalam GHS meminta wadah atau label produk tersedia ketika nasihat medis diperlukan. Informasi tentang bahan membantu petugas menentukan penanganan.
Membangun kebiasaan membaca sebelum membuka tutup
Membaca label tidak perlu memakan waktu lama bila urutannya tetap: kata sinyal, piktogram, pernyataan bahaya, pernyataan kehati-hatian, lalu identitas produsen. Untuk bahan yang berkata sinyal “Bahaya”, unduh lembar datanya dan baca bagian 4, 7, 8, dan 13 sebelum pertama kali dipakai. Untuk bahan tanpa piktogram, tetap baca petunjuk penggunaan dan batas usia. Setelah beberapa kali, mata akan terbiasa menemukan informasi itu dalam hitungan detik.
Kebiasaan ini juga mempermudah topik lain di meja kerajinan. Pengaturan ventilasi dan penyimpanan dibahas lebih rinci di panduan sudut kerajinan di ruang sempit. Pemilihan perekat yang tepat untuk tiap bahan dibahas di panduan memilih lem kerajinan, sedangkan pembagian bahan dan alat ketika berkarya bersama anak ada di panduan kerajinan bersama anak.
Label adalah ringkasan, lembar data keselamatan adalah penjelasannya, dan petunjuk produsen adalah acuan utama untuk produk tertentu. Ketika ketiganya dibaca bersama, keputusan tentang ventilasi, pelindung diri, penyimpanan, dan pembuangan tidak lagi bergantung pada perkiraan atau bau bahan.
Pertanyaan seputar label dan lembar data
Apa beda kata sinyal Bahaya dan Awas?
Keduanya menunjukkan tingkat relatif bahaya menurut peraturan Menteri Perindustrian. Bahaya dipakai untuk kategori yang lebih berat, Awas untuk kategori yang lebih ringan.
Apakah produk tanpa piktogram berarti aman?
Tidak selalu. Klasifikasi dibuat untuk cara pakai yang wajar; memanaskan, mengampelas, atau mencampur bahan dapat menimbulkan paparan lain. Tetap baca petunjuk penggunaan dan batas usia.
Di mana mencari lembar data keselamatan sebuah cat atau lem?
Biasanya di situs resmi produsen dengan mencari nama dagang dan varian produk. Bila tidak ada, hubungi layanan pelanggan yang tercantum pada label.
Apa arti tulisan Conforms to ASTM D-4236?
Di Amerika Serikat, kalimat itu menandakan bahan seni telah dinilai menurut ketentuan pelabelan bahaya kesehatan kronis. Kalimat itu bukan jaminan aman untuk semua penggunaan atau usia.
Dokumen yang dipakai untuk panduan label
- Permenperin 87/M-IND/PER/9/2009 tentang GHS (Berita Negara 2009 No. 309). Naskah awal GHS tahun 2009, dibaca bersama perubahan 2013 untuk unsur label dan kewajiban kaji ulang. Diakses 17 Oktober 2026.
- Permenperin 23/M-IND/PER/4/2013 tentang perubahan GHS (Berita Negara 2013 No. 565). Perubahan 2013: Pasal 5 ayat (2) memuat enam unsur wajib; Pasal 11 ayat (1) huruf d mengatur kaji ulang LDK dan label setiap ada perubahan atau paling sedikit lima tahun sekali. Dokumen juga memuat pemberlakuan campuran dan pengecualiannya. Diakses 17 Oktober 2026.
- OSHA — Hazard Communication Standard: Safety Data Sheets. Ringkasan lembaga keselamatan kerja Amerika Serikat tentang isi setiap bagian lembar data keselamatan; dipakai sebagai penjelas format, bukan aturan Indonesia. Diakses 17 Oktober 2026.
- OSHA — Hazard Communication Pictograms. Daftar sembilan piktogram GHS dari Amerika Serikat, termasuk catatan bahwa bingkai merah tanpa simbol bukan piktogram. Diakses 17 Oktober 2026.
- PubChem — GHS Classification Summary. Ringkasan kode pernyataan bahaya dan kehati-hatian GHS (revisi 11) dari Perpustakaan Kedokteran Nasional Amerika Serikat. Diakses 17 Oktober 2026.
- eCFR — 16 CFR 1500.14 (art materials, LHAMA). Ketentuan Amerika Serikat yang menjadikan standar pelabelan bahan seni ASTM D-4236 mengikat; relevan untuk produk impor dari negara itu. Diakses 17 Oktober 2026.