Tekstil & Serat

Ecoprint Daun di Kain Katun: Mordan, Kukus, dan Fiksasi

Ecoprint memindahkan bentuk dan warna daun ke kain lewat mordan, tekanan atau uap, dan fiksasi. Setiap tahap memengaruhi ketajaman motif dan ketahanan warna.

Ilustrasi AI: gulungan kain terikat pada batang kayu dan daun di atas kain terbuka
Ilustrasi AI: Persiapan susunan daun dan gulungan kain pada suhu ruang.

Ecoprint memindahkan bentuk dan warna daun langsung ke kain. Hasilnya selalu unik: urat daun jati yang tegas, bayangan kecokelatan dari daun jambu, atau garis kehijauan yang samar dari daun pepaya. Teknik ini banyak dikerjakan di Indonesia karena bahannya tumbuh di sekitar rumah, dan karena prosesnya dapat dilakukan dengan peralatan dapur sederhana yang dikhususkan untuk kerajinan. Di balik kesederhanaannya, ecoprint tetap merupakan proses pewarnaan: kain disiapkan, diberi mordan agar warna terikat, dipanaskan atau dipukul agar pigmen berpindah, lalu dikunci dengan tahap fiksasi.

Panduan ini menyusun alur ecoprint di kain katun dari awal sampai pencucian pertama, dengan membandingkan teknik pukul, kukus, dan rebus. Rujukannya adalah beberapa penelitian dan kegiatan pengabdian masyarakat dari perguruan tinggi di Indonesia yang menguji teknik-teknik ini, serta data klasifikasi bahaya bahan kimia dari PubChem untuk mordan dan bahan fiksasi yang sering dipakai. Penelitian-penelitian itu memberi gambaran hasil, tetapi resep setiap pembuat berbeda, sehingga uji pada potongan kain kecil tetap menjadi langkah wajib.

Tiga teknik yang paling sering dipakai

Ada beberapa cara memindahkan pigmen daun ke kain. Tiga yang paling sering dibahas dalam penelitian ecoprint di Indonesia adalah teknik pukul atau pounding, teknik kukus atau steaming, dan teknik rebus atau boiling.

Teknik pukul

Pada teknik pukul, daun diletakkan di atas kain, ditutup plastik atau kertas, lalu dipukul dengan palu kayu atau karet sampai cairan daun meresap ke serat kain. Kegiatan pelatihan ecoprint di Kota Bengkulu yang dilaporkan dalam jurnal pengabdian Universitas Muhammadiyah Bengkulu memakai teknik ini untuk kain katun karena alatnya sederhana dan mudah dipraktikkan. Penelitian di Universitas Negeri Padang yang membandingkan teknik pukul dan kukus pada daun jati dengan mordan tawas melaporkan bahwa motif hasil pukul yang dipres dengan setrika tampak lebih tegas, dengan tulang daun yang jelas dan warna yang lebih pekat.

Teknik kukus

Pada teknik kukus, daun disusun di atas kain, kain digulung rapat pada batang kayu atau pipa, diikat kuat, lalu dikukus. Uap panas membantu pigmen daun berpindah ke serat. Teknik ini cocok untuk kain yang lebih panjang dan menghasilkan cetakan yang lebih menyeluruh, termasuk warna latar dari daun yang saling tumpang tindih.

Teknik rebus

Teknik rebus mirip dengan kukus, tetapi gulungan kain direndam dan direbus dalam air. Penelitian dari Universitas PGRI Adi Buana Surabaya yang membandingkan teknik rebus dan kukus pada tas jinjing katun dengan daun pepaya melaporkan perbedaan hasil antara keduanya, dengan teknik kukus menghasilkan motif yang lebih jelas pada percobaan mereka. Air rebusan juga membawa sebagian pigmen ke seluruh kain, sehingga latar kain ikut berwarna.

Ketiga teknik dapat dicoba pada potongan kain kecil dengan daun yang sama, lalu dibandingkan. Hasilnya bergantung pada jenis daun, umur daun, kain, mordan, lama pemanasan, dan tekanan gulungan, sehingga hasil penelitian lain menjadi gambaran, bukan jaminan.

Mengapa kain perlu dimordan

Pigmen dari daun tidak selalu menempel kuat pada serat kain bila dibiarkan begitu saja. Mordan berfungsi sebagai perantara yang membantu pigmen terikat pada serat, sehingga warna lebih pekat dan tidak cepat luntur. Itulah sebabnya hampir semua penelitian ecoprint yang dirujuk di sini memakai mordan tawas, baik untuk teknik pukul maupun kukus. Tanpa mordan, motif sering tampak samar dan cepat pudar setelah dicuci.

Mordan juga ikut menentukan warna. Logam yang berbeda bereaksi berbeda dengan pigmen daun, sehingga daun yang sama dapat menghasilkan nuansa berbeda pada kain yang dimordan tawas dibanding kain yang terkena tunjung. Karena pengaruhnya besar, perlakukan mordan sebagai bagian dari desain, bukan langkah tambahan. Bila ingin membandingkan, siapkan dua potongan kain kecil dengan mordan berbeda dan cetak daun yang sama di keduanya.

Takaran mordan perlu dicatat setiap kali. Mordan yang terlalu sedikit menghasilkan warna lemah, sedangkan mordan berlebihan tidak selalu membuat warna lebih baik dan dapat membuat kain terasa kaku. Mulailah dari resep yang sudah teruji dari sumber tepercaya, lalu ubah sedikit demi sedikit dan bandingkan hasilnya.

Menyiapkan dapur kerajinan

Ecoprint melibatkan air panas, uap, dan larutan bahan kimia ringan sampai korosif. Idealnya, pekerjaan dilakukan di dapur kedua, teras, atau halaman dengan kompor portabel yang stabil, bukan di dapur tempat makanan disiapkan. Bila terpaksa memakai dapur rumah, kerjakan pada waktu tidak ada kegiatan memasak, singkirkan makanan dan alat makan dari meja, dan bersihkan permukaan setelah selesai. Siapkan dua ember: satu untuk larutan mordan dan satu untuk air bilasan, masing-masing diberi tanda dengan jelas.

Atur meja kerja sehingga alur bergerak satu arah: kain bersih di satu sisi, ember mordan di tengah, area menyusun daun di sisi lain, lalu kompor dan kukusan di tempat terpisah. Alur yang jelas mencegah kain bersih terkena tetesan larutan dan mengurangi risiko tersenggol ketika membawa panci panas. Sediakan juga alas tahan panas untuk meletakkan gulungan setelah dikukus.

Bahan dan alat

  • Kain berserat alami, misalnya katun. Penelitian di Padang memakai katun primissima. Serat alami menerima pigmen dan mordan lebih baik daripada serat sintetis.
  • Daun dan bunga dari tanaman yang dikenali. Daun jati dan daun pepaya dipakai dalam penelitian yang dirujuk di sini; banyak pembuat juga mencoba daun jambu, daun lanang, atau daun ketapang. Uji setiap jenis daun lebih dahulu.
  • Mordan, paling sering tawas (kalium aluminium sulfat).
  • Bahan fiksasi sesuai resep, misalnya tawas, kapur, atau tunjung (besi(II) sulfat).
  • Peralatan khusus kerajinan: panci atau dandang kukusan, ember, baskom, batang kayu atau pipa, tali, karet, plastik penutup, palu kayu atau karet, sarung tangan, dan termometer bila resep menyebut suhu.

Peralatan yang sudah dipakai untuk mordan dan bahan fiksasi tidak dikembalikan ke dapur untuk memasak. Beri tanda pada panci dan ember khusus kerajinan, dan simpan terpisah dari alat makan.

Keselamatan bahan mordan dan fiksasi

Bahan-bahan yang dipakai dalam ecoprint tidak sama tingkat bahayanya, dan perbedaan itu menentukan alat pelindung yang perlu disiapkan. Data klasifikasi GHS yang dihimpun PubChem, basis data kimia milik Perpustakaan Kedokteran Nasional Amerika Serikat, memberikan gambaran berikut.

Bahan Nama lain Gambaran klasifikasi di PubChem
Kalium aluminium sulfat tawas dilaporkan tidak memenuhi kriteria bahaya GHS dalam notifikasi yang dirangkum
Besi(II) sulfat tunjung berbahaya bila tertelan (H302), iritasi kulit (H315), dan iritasi lain
Natrium hidroksida soda api, soda kaustik menyebabkan luka bakar kulit dan kerusakan mata yang parah (H314), kata sinyal Danger

Soda api atau natrium hidroksida muncul sebagai bahan dalam beberapa penelitian ecoprint, termasuk penelitian tas jinjing yang dirujuk di sini. Penyebutan bahan dalam penelitian bukan petunjuk untuk melarutkannya di rumah. Klasifikasi korosif juga tidak cukup untuk menetapkan jenis sarung tangan, wadah, urutan pencampuran, atau pengendalian yang diperlukan. Bila belum mempunyai SDS produk dan prosedur terlatih yang sesuai peralatannya, jangan mencoba tahap soda api dari ringkasan artikel. Untuk proyek rumahan, pilih petunjuk ecoprint yang tidak memakai bahan tersebut dan dapat dipenuhi seluruh tahapnya. Jangan mengganti bahan dalam resep yang ada dengan takaran perkiraan atau menganggap perlengkapan dasar otomatis mencukupi.

Walaupun tawas tergolong ringan, larutannya tetap tidak untuk diminum, dan serbuknya disimpan dalam wadah berlabel jauh dari bahan makanan. Tunjung disimpan dalam wadah tertutup dan ditangani dengan sarung tangan. Untuk bahan apa pun yang dibeli, label dan lembar data keselamatan dari pemasoknya tetap menjadi acuan utama. Cara membaca dokumen itu dijelaskan di panduan label GHS dan lembar data keselamatan.

Ilustrasi AI: kain bercetak motif daun dibentangkan pada rak pengering
Ilustrasi AI: Contoh kain bermotif daun; warna hasil pada bahan sebenarnya dapat berbeda.

Alur kerja teknik kukus, langkah demi langkah

Alur berikut menggambarkan urutan umum teknik kukus pada kain katun. Takaran mordan dan lama pengukusan tidak dicantumkan sebagai angka pasti karena berbeda antarresep dan antarjenis daun. Catat takaran yang dipakai setiap kali mencoba, sehingga hasil yang berhasil dapat diulang.

1. Membersihkan kain

Kain baru sering mengandung kanji, minyak, atau pelapis pabrik yang menghalangi pigmen dan mordan meresap. Cuci kain lebih dahulu sampai bersih, bilas, lalu keringkan atau biarkan lembap sesuai resep. Langkah ini sering disebut pemasakan atau scouring dalam pewarnaan tekstil.

2. Mordanting

Larutkan tawas dalam air hangat di ember khusus kerajinan, lalu rendam kain sampai seluruh bagian terendam rata. Aduk sesekali agar tidak ada bagian yang terlipat dan tidak terkena larutan. Lama perendaman mengikuti resep yang dipakai; banyak pembuat merendam beberapa jam atau semalam. Setelah itu, peras kain dan angin-anginkan sampai lembap merata.

3. Menyusun daun

Bentangkan kain di atas plastik. Susun daun dengan sisi bawah, yang uratnya lebih menonjol, menghadap ke kain. Atur jarak antar daun sesuai pola yang diinginkan. Daun yang tumpang tindih menghasilkan bayangan bertumpuk. Bila resep memakai kain penutup yang dicelup larutan lain untuk memberi warna latar, kain itu diletakkan di atas daun sebelum digulung.

4. Menggulung dan mengikat

Tutup susunan daun dengan plastik, lalu gulung kain serapat mungkin pada batang kayu atau pipa. Kerapatan gulungan sangat menentukan ketajaman cetakan: gulungan longgar membuat daun bergeser dan motif kabur. Ikat gulungan dengan tali secara melilit dari ujung ke ujung dan tarik kencang.

5. Mengukus

Letakkan gulungan di dalam dandang kukusan yang airnya sudah mendidih, tutup rapat, dan kukus selama waktu yang disebut resep. Periksa air di dandang secara berkala agar tidak habis. Kerjakan di dapur kerajinan atau tempat terbuka dengan ventilasi baik, dan jangan meninggalkan kompor menyala tanpa pengawasan.

6. Membuka gulungan

Setelah dikukus, biarkan gulungan cukup dingin untuk dipegang. Buka perlahan, angkat daun, dan amati motif. Waktu membuka gulungan memengaruhi hasil. Uji coba ecoprint daun pucuk merah di Universitas Negeri Surabaya membandingkan gulungan hasil kukus yang langsung dibuka dengan yang dibuka setelah dua hari, dan pada percobaan itu hasil terbaik teknik kukus diperoleh dari gulungan yang langsung dibuka. Resep lain dapat memberi hasil berbeda, jadi bandingkan sendiri pada potongan kecil.

7. Fiksasi

Fiksasi bertujuan mengunci warna dan dapat mengubah nuansa. Pada uji coba di Universitas Negeri Surabaya yang sama, fiksasi tawas menghasilkan warna cokelat transparan, sedangkan fiksasi tunjung menghasilkan warna hitam transparan, terutama pada daun hijau. Perbedaan ini dapat dimanfaatkan: tawas untuk nuansa hangat, tunjung untuk nuansa gelap. Celup kain dalam larutan fiksasi sesuai resep, bilas, lalu keringkan di tempat teduh.

8. Pencucian pertama

Cuci kain dengan cara lembut setelah warna dianggap stabil. Penelitian di Padang menguji pencucian dengan lerak dan melaporkan tidak ada perbedaan berarti pada satu sampai dua kali pencucian untuk sampel mereka. Gunakan sabun lembut, hindari pemutih, jangan menyikat keras, dan keringkan di tempat teduh agar warna tidak cepat pudar oleh matahari.

Keselamatan saat memanaskan dan mengangkat gulungan

Uap dari dandang dapat melukai sama seperti air mendidih. Buka tutup dandang dengan mengarahkannya menjauhi wajah sehingga uap keluar ke sisi yang berlawanan. Angkat gulungan dengan penjepit panjang atau sarung tangan tahan panas, bukan dengan tangan kosong, dan letakkan di atas alas tahan panas. Gulungan yang panas tetap menyimpan panas di bagian dalam cukup lama, sehingga tunggu sampai cukup dingin sebelum ikatan dibuka. Pastikan pegangan panci menghadap ke dalam kompor agar tidak tersenggol, dan jauhkan anak serta hewan peliharaan dari area kompor selama proses berlangsung.

Bila memakai kompor portabel di teras, letakkan di permukaan datar yang tidak mudah terbakar, terlindung dari angin kencang, dan jauh dari tumpukan kain atau kertas. Matikan kompor sebelum menambahkan air ke dandang yang hampir kering, karena air dingin yang dituang ke dandang panas dapat memercikkan uap.

Variasi teknik pukul

Teknik pukul cocok untuk potongan kecil seperti saputangan, sarung bantal, atau tas jinjing. Letakkan kain yang sudah dimordan di atas permukaan keras yang dialasi papan atau talenan khusus, susun daun, tutup dengan plastik, lalu pukul perlahan tapi merata dari tengah ke tepi daun sampai bentuk daun tercetak. Penelitian di Padang mengepres hasil pukul dengan setrika pada suhu katun sekitar lima menit dengan alas kertas roti, dan melaporkan motif yang lebih tegas setelah pengepresan itu.

Palu menghasilkan bunyi keras dan getaran. Kerjakan di lantai atau meja yang kokoh, jauhkan jari dari bidang pukul, dan gunakan pelindung mata bila ada kemungkinan serpihan daun atau cairan memercik.

Merencanakan tata letak daun

Motif ecoprint yang menarik jarang terjadi secara kebetulan. Sebelum menyusun daun pada kain utama, susun dulu di atas kertas seukuran kain atau di atas kain uji, lalu foto susunannya. Perhatikan beberapa hal: daun besar sebagai titik fokus, daun kecil sebagai pengisi, arah tangkai yang konsisten atau sengaja dibuat berputar, dan ruang kosong yang memberi jeda. Ingat bahwa kain yang digulung akan mencetak daun ke lapisan kain di atas dan di bawahnya, sehingga motif dapat muncul berulang dengan intensitas berbeda. Banyak pembuat memanfaatkan efek ini, sementara yang lain memasang lapisan plastik tipis di atas daun agar cetakan hanya muncul di satu sisi.

Untuk benda yang nantinya dijahit, seperti tas jinjing atau sarung bantal, rencanakan juga posisi motif terhadap garis jahit dan lipatan. Tandai batas jahitan dengan kapur kain sebelum menyusun daun, agar daun utama tidak terpotong oleh kampuh. Untuk saputangan atau taplak, bagian tengah dan sudut biasanya menjadi area yang paling terlihat.

Saputangan katun sebagai proyek pertama

Contoh rekaan berikut menggambarkan proyek pertama dengan teknik pukul. Selembar katun putih seukuran saputangan dicuci, dibilas, lalu direndam dalam larutan tawas sesuai resep yang dipilih, kemudian diangin-anginkan sampai lembap. Tiga daun jati muda dan beberapa daun kecil dipetik pagi hari. Kain dibentangkan di atas papan, daun jati diletakkan di tiga sudut dengan sisi urat menghadap kain, lalu ditutup plastik. Daun dipukul perlahan dengan palu karet dari tengah ke tepi sampai bentuknya tercetak. Setelah daun diangkat, kain dialasi kertas roti dan dipres dengan setrika pada setelan katun selama beberapa menit, mengikuti pendekatan yang dipakai penelitian di Padang. Kain lalu dicelup larutan fiksasi tawas, dibilas, dan dijemur di tempat teduh. Pencucian pertama dilakukan dengan tangan memakai sabun lembut beberapa hari kemudian, dan hasilnya dicatat di buku percobaan bersama foto sebelum dan sesudah dicuci.

Kain selain katun

Katun mudah didapat dan menerima mordan dengan baik, sehingga cocok untuk belajar. Kain berserat alami lain juga dipakai dalam ecoprint, tetapi perilakunya berbeda dan resepnya perlu disesuaikan. Kain sintetis umumnya tidak menerima pigmen daun sebaik serat alami. Bila ingin mencoba kain lain, gunakan potongan kecil dan bandingkan dengan katun yang diproses dengan cara sama.

Menyimpan daun dan bahan

Daun paling baik dipakai segar. Bila harus disimpan sebentar, bungkus dengan kain lembap dan letakkan di tempat sejuk. Beberapa pembuat merendam daun tertentu sebelum dicetak untuk melunakkan permukaannya; uji dulu pengaruhnya. Serbuk tawas dan tunjung disimpan dalam wadah tertutup berlabel, jauh dari bahan dapur dan dari jangkauan anak. Soda api, bila dipakai, disimpan di wadah aslinya yang rapat, di rak tinggi, jauh dari bahan lain.

Membaca hasil dan memperbaiki resep

Catatan kecil untuk setiap percobaan sangat membantu: jenis dan umur daun, sisi daun yang menempel, jenis kain, takaran dan lama mordan, teknik, lama pemanasan, bahan fiksasi, serta foto hasil sebelum dan sesudah dicuci. Dari catatan itu, pola mulai terlihat.

  • Motif kabur dan melebar: gulungan kurang rapat, daun bergeser, atau kain terlalu basah.
  • Warna sangat pucat: daun kurang mengandung pigmen pada musim itu, mordan kurang, atau pemanasan terlalu singkat.
  • Bercak tidak rata: kain belum bersih dari kanji, atau mordan tidak merata karena kain terlipat saat direndam.
  • Warna berubah gelap: kontak dengan besi, termasuk panci besi atau larutan tunjung, dapat menggelapkan warna.
  • Warna luntur banyak saat dicuci: fiksasi belum memadai atau kain dicuci terlalu cepat dan terlalu keras.

Mengajak anak dalam tahap yang aman

Anak dapat dilibatkan dalam memilih dan menyusun daun, menekan daun dengan rol kecil, atau mendokumentasikan hasil. Tahap mordan, pengukusan, fiksasi, dan penanganan soda api sepenuhnya dikerjakan orang dewasa. Untuk kegiatan yang sepenuhnya cocok bagi anak, cetak daun dengan cat berbasis air di atas kertas memberi pengalaman serupa tanpa larutan kimia; idenya dibahas di panduan kerajinan bersama anak.

Memilih daun dengan bertanggung jawab

Petik daun dari tanaman sendiri atau minta izin pemiliknya, ambil secukupnya, dan jangan memetik tanaman yang dilindungi. Kenali tanaman yang dipakai; beberapa tanaman bergetah dapat mengiritasi kulit, sehingga perlindungan dipilih sesuai bahan dan petunjuk yang digunakan. Hindari daun dari tepi jalan yang sangat berdebu atau tanaman yang baru disemprot pestisida. Pisahkan sisa tanaman yang belum terkena bahan proses dari daun bekas cetak yang telah kontak dengan larutan mordan atau fiksasi. Untuk sisa yang telah diperlakukan, ikuti petunjuk pemasok dan ketentuan pembuangan setempat. Sedikitnya larutan yang menempel tidak menjadi bukti bahwa sisa itu layak masuk kompos; jangan mencampurkannya ke tumpukan kompos hanya berdasarkan perkiraan jumlah.

Musim juga berpengaruh. Daun yang sama dapat memberi warna lebih pekat atau lebih pucat tergantung umur daun, cuaca, dan bagian tanaman tempat daun dipetik. Mencatat tanggal petik di buku percobaan membantu melihat pola itu dari waktu ke waktu, sehingga pilihan daun untuk proyek penting tidak lagi bergantung pada tebakan.

Mengembangkan variasi setelah dasar dikuasai

Setelah alur dasar berhasil diulang beberapa kali, variasi dapat ditambahkan satu per satu. Salah satunya adalah kain penutup yang dicelup larutan pewarna atau larutan tunjung sebelum diletakkan di atas daun, sehingga latar kain ikut berwarna dan bentuk daun tampak sebagai siluet. Variasi lain adalah mencelup sebagian daun ke larutan fiksasi sebelum disusun, untuk memberi warna gelap hanya pada daun tertentu. Ada pula yang mengombinasikan teknik pukul untuk detail kecil dengan teknik kukus untuk latar.

Agar variasi dapat dipahami, ubah hanya satu hal dalam setiap percobaan. Bila daun, mordan, waktu kukus, dan fiksasi diubah sekaligus, sulit mengetahui perubahan mana yang menghasilkan perbedaan warna. Kain uji berukuran kecil, misalnya seukuran telapak tangan, cukup untuk membandingkan dan jauh lebih hemat daripada mencoba langsung pada kain besar.

Kumpulkan kain uji yang sudah diberi keterangan dalam satu map atau buku contoh. Seiring waktu, buku contoh ini menjadi rujukan pribadi yang paling berguna, karena memperlihatkan bagaimana daun dari lingkungan sendiri bereaksi pada musim yang berbeda.

Menangani air bekas dan merawat hasil

Air bekas mordan dan fiksasi jangan dibuang ke kolam, saluran yang menuju sungai, atau tanah di sekitar sumur. Ikuti petunjuk pembuangan pada label atau lembar data bahan yang dipakai, dan untuk larutan yang mengandung soda api, netralkan hanya bila petunjuk produk menjelaskan caranya. Simpan sisa serbuk dalam wadah aslinya yang berlabel.

Kain ecoprint lebih awet bila dicuci dengan tangan memakai sabun lembut, dijemur di tempat teduh, dan disimpan jauh dari sinar matahari langsung. Bila kain akan dipakai sebagai pakaian atau sering dicuci, uji ketahanan warnanya pada potongan uji lebih dahulu dengan mencucinya beberapa kali dengan cara yang sama seperti kain jadi akan dirawat. Cara sederhana ini memberi gambaran apakah warna cukup stabil sebelum kain besar dikerjakan. Untuk mengembangkan warna latar atau mencelup benang, pewarnaan dengan bahan alam lain seperti indigo, secang, dan tingi dibahas di panduan pewarna alam untuk kain. Kain hasil ecoprint juga dapat dijahit menjadi kantong kecil; tekniknya ada di panduan pouch kain perca dengan jahit tangan.

Pertanyaan seputar ecoprint

Teknik apa yang paling mudah untuk pemula?

Teknik pukul memerlukan alat paling sederhana dan cocok untuk potongan kecil. Teknik kukus cocok untuk kain yang lebih panjang.

Apa beda fiksasi tawas dan tunjung?

Pada uji coba di Universitas Negeri Surabaya, fiksasi tawas menghasilkan warna cokelat transparan, sedangkan tunjung menghasilkan warna hitam transparan.

Apakah soda api wajib dipakai?

Tidak semua petunjuk ecoprint memakainya. Soda api korosif; ringkasan penelitian bukan prosedur pelarutan rumahan. Tanpa SDS produk, prosedur terlatih, dan peralatan yang sesuai, pilih petunjuk tanpa soda api yang dapat dipenuhi seluruh tahapnya.

Mengapa motif ecoprint kabur?

Penyebab umum adalah gulungan kurang rapat, daun bergeser, kain terlalu basah, atau kain belum bersih dari kanji.

Penelitian dan data bahan yang dirujuk